...and the story begin
Luruh Daun
Wednesday, June 21, 2006
 

undefined
Matahari perlahan tergelincir.
Menuju ufuk tempatnya seharusnya ia beristirahat.
Menepikan rasa yang semula menggeletar seolah ingin meruntuhkan kekuatan hati untuk berpijak di sini.
Kekuatan kaki tak ada lagi, untuk tetap berdiri ataupun berlari.
Hanya mematung dalam kegamangan hati.
Terbang, terombang ambing terhempas yang angin tak berpihak sedikitpun.
Tak ada hinggapan, tempat berbaring, ranting kering, bidang datar, bahkan sebongkah batupun.
Yang ada hanyalah kehampaan..
sunyi menyayat nyayat...


Tak ada lagi ingin, pun rasa, serta harap yang dulu dengan dengan segala warnanya datang begitu saja,
Seperti mati...sepi...
Denting dawai hati, tak lagi menghasilkan harmoni.
Bersitubruk dengan logika yang membawa letih,
Menamparku hingga membuat terjerembab...
Sakit...

Pengharapan yang sempat memutik, tak mungkin dapat aku dipetik.

Aku...
Luruh bagai daun tertiup garang angin di musim kemarau.
unai @ 9:32 PM -

9 Comments:
  • At 11:02 PM, Blogger buderfly said…

    jalani laju luruhmu
    dengan irama hati penuh Nai
    rasakan bahwa hidup teruslah bertumbuh...
    sampai saatnya kau tahu
    dimana hatimu berlabuh..

    luruhlah luruh jiwa yang tengah lusuh...

     
  • At 3:21 AM, Blogger Maryulis Max said…

    Hatiku turut luruh bersamamu BIN... He3X

     
  • At 1:52 PM, Blogger mutiara nauli pohan said…

    pasrah...

     
  • At 8:01 PM, Blogger It's just me said…

    Ikuti kemana angin membawamu terbang
    Hingga tiba jualah tempatmu labuhkan keletihan..
    ntah di tanah subur, lumpur, ataupun bebatuan
    tunas baru nanti kan kau tumbuhkembangkan...

     
  • At 10:06 PM, Anonymous Anonymous said…

    setdah... nek wis meh preian wiken, terus postingan romantis, ben tambah disayang karo pak mentareee.... koyone pak mentare kuwi luwih seneng yen masakan enak tinimbang moco postingan sing romantis?! hihihihihihi.... :P

    met wiken ye mak... salam buwat alip + bapaknya :)

    siwoer

     
  • At 10:45 PM, Blogger Susan said…

    Mbak, kenapa setiap puisi Mbak Unai dan Lucy keknya paaasssss banget sama hati...

    Hmm, jadi lemes bacanya...As if you two knows exactly how i feel...

     
  • At 4:54 AM, Blogger Sisca said…

    Mbak Unai, saatnya bangkit !!!!

    jgn terlalu menangisi satu kepedihan, biarkan duka pergi dari kerangka hatimu...agar kegembiraan bisa bersarang di sana :)

     
  • At 10:36 PM, Blogger unai said…

    Bud..jiwaku mati saat ini.

    Uda...terima kasih ya da

    Uli..tak ada yang lebih baik dari itu kan Li?

    Mba Lucy.. daun kering ..tak akanmenghasilkan tunas baru. dia luruh tertiup angin..kemudia busuk menjadi humus

    Om siwoer..heheh setdah..

    Susan...mungkin kebetulan aja kali san.

    Sisca..betul ya sis..bangkit dari kubur hihihi

     
  • At 12:33 PM, Blogger Nahria Medina Marzuki said…

    Masih ada hinggapan dan tempat berbaring

    saat luruh hati
    mendera

    Masih ada hinggapan dan tempat berbaring
    yang tidak akan patah

    masih ada Allah
    yang siap menampung
    semua dera kita

     
Post a Comment
<< Home
 
 
Profile

unai - Yogya, Indonesia
Sebelum kita mengantarkan mentari pulang ke peraduan, mari buka tirai sejenak, agar angin menelusupkan damai...meninggalkan rahasia..entah untuk siapa??? UNTUKMU ???
My profile

 
tag here please
Free shoutbox @ ShoutMix
 
 
Guys Next Door
 
Other Side of Me
 
 
Hobbies
 
Previous Post
 
Recent Comments
 
Archives
 
credits

BLOGGER


BlogFam Community

Lomba Blogfam HUT Kemerdekaan RI ke 62
Lomba Hut ke-3 Blogfam

Tour de Djokdja

Pesta Blogger 2007