...and the story begin
AKU MALAM INI
Monday, June 12, 2006
 

Bulan bulat merah, mengantar langkahku di sisa senja hari ini. Tersangkut di reranting ranggas nan retas. Lapuk terbakar matahari. Aku berlari membawa hati, lelah terombang ambing perahu kecemasan yang tiada bertepi. Kutengadah sebelum berangkat, berharap temanku bintang ada di sana. Tak ada, sepi... Langit retak... awan membuat polanya.

Dingin sekali, purnama membuat angin terasa begitu menusuk sumsum, melinukan sendi. Kulewati jalan jalan kampung hatiku, ditemani oncor oncor penerangan, di jalan berkerikil tajam, dan di kelok jalan menuju jawab, akan tanya hati yang setelah dua minggu lebih bersemayam di sini.

"Hmmm malam ini akan menjadi malam yang panjang dan melelahkan buatku", meskipun aku sudah pernah merasai malam seperti ini sebelumnya. Dalam seminggu, pasti akan ada malam seperti ini. Pasti aku akan berteman kawanan jengah, dan menyiapkan telinga yang harus lebih tajam dari biasanya, mengasah otak agar harus mampu lebih banyak menyimpan, dan dengan jemari yang harus dengan cekatan menekan tuts di hadapan.

Di dalam ruangan, berdidinding salem. 20 derajat celcius, seharusnya aku sudah cukup kedinginan. tapi...seperti tertampar tatapan di seberang. Panas muka dihunus tatapan tajam kebencian. Wangi giorgio armani dan chanel membaur, membiusku. Pakaian rapi, sepatu mengkilat, dan rambut klimis.
Lengkap sudah malam ini. basa basi yang basi adalah pembukanya. Muka masam diseberang melotot garang, hendak menerkam.

Lima belas menit pertama, terasa lamban sekali jarum jam berputar. Seakan enggan berganti ke hitungan menit berikutnya. Aku melesat, rendahkan debu-debu antara ringkik enam pejantan menghela.
Aku menanti dengan was was, menanti jawab akan kecemasan beralasan.
sembilan puluh menit lebih. Masih dengan pembicaraan penutup yang panjang dan belum juga berakhir. "Ah mungkin belum malam ini terjawab". Aku harus menunggu suatu malam lagi di minggu berikutnya.

8 Km dengan 40 km/h. Dua roda melindas daun-daun kering dan jatuhan ranting pohon-pohon besar. Kunikmati dingin menikam, berteman langit retak malam ini, juga temanku bintang yang bersinar lemah kehilangan gairah. Membaca tulisan tangan di dinding hati, yang tertoreh dua minggu terakhir ini. Malam ini, aku belajar lagi untuk mendengarkan hati.
Aku malam ini, belajar untuk mengikhlaskan rasa kalah untuk kemudian menemukan ketenangan dalam batin.


*Terima kasih pohon rindang, kau memberi teduh kepada jiwa dilanda gersang.


CIK DITIRO/120606
unai @ 7:42 PM -

14 Comments:
  • At 10:04 PM, Blogger Sam said…

    jeng...sopo ki pohon rindang iki? dudu aku toh :) ---> ngayal huaehehhehehe.

    aku agak mending. salam balik dari yeni :)

    sukses yo

     
  • At 10:27 PM, Blogger It's just me said…

    Kalah? MUngkin bukan...sering kali mengalah diperlukan untuk menang ;). Jangan merasa sendiri, banyak pohon rindang untuk kau singgahi...pilih satu.. agar jawaban yang kau tunggu tak membiusmu dalam kegersangan..:)

     
  • At 10:46 PM, Blogger Nahria Medina Marzuki said…

    Aku malam ini
    seperti pohon yang tergeletak tertimbas hujan

     
  • At 10:49 PM, Blogger buderfly said…

    Mengalah untuk menerima kalah; menemukan kemenangan yang sejati dalam sanubari
    memupus nafas hidup bagi kecemasan
    akan datangnya ketidak pastian
    berapa minggu lagi???

    Langit retak
    bulan penuh
    dan hati yang mendengarkan...

     
  • At 8:25 AM, Blogger Sisca said…

    Mbak Unai, Tulisan yg apik..ada wangi parfum, alam, pohon rindang, rasa, semua begitu hidup dalam sapuanmu :)

     
  • At 11:33 AM, Blogger ipal said…

    oghhhh

     
  • At 1:33 PM, Blogger unai said…

    Mas Sam, pohon rindang itu teduh sekali, membuat pejalan kaki atau siapapun nyaman berada di bawah rindangnya

    Mbak Lucy, u re rite sist

    Yaya, ada apa denganmu? bukankah pohon tersiram hujan akan semakin subur menjulang ?

    Bdfly, Hmmm indah sekali ya mempunyai pribadi pengalah yang akhirnya membuat jiwa kita merasa menang.

    Sisca, its too much dear, i dont deserve...

    Ipal...ahhh

     
  • At 5:03 PM, Anonymous iteung said…

    habis baca d buddy yang mengalah, trus lanjut k pinus yang pengen jadi perahu...akhirnya ksimpulan ada d sini :)

     
  • At 5:36 PM, Blogger unai said…

    iteung...ah masak sih teung? hhihihi

     
  • At 6:42 PM, Blogger Madame Butterfly said…

    hmmm.......

    *sembari ngupil*

     
  • At 7:00 PM, Anonymous windede said…

    hidup oncor oncor.... :p

     
  • At 7:11 PM, Blogger unai said…

    Madam...*jitak ah ngupil kok disini

    Windede...Hiduppppp

     
  • At 8:07 PM, Anonymous gita! said…

    jgn pernah merasa kalah, itu hanya satu langkah tertunda..dan itu wajar!!

     
  • At 9:10 PM, Blogger siwoer said…

    proposal ditolak yo mak? yo wis ra popo. besok bikin lagi yang lebih baek. trus presentasinya juga dibikin yang lebih bagus lagi.

    hihihihi...sok tau ya gw :P

     
Post a Comment
<< Home
 
 
Profile

unai - Yogya, Indonesia
Sebelum kita mengantarkan mentari pulang ke peraduan, mari buka tirai sejenak, agar angin menelusupkan damai...meninggalkan rahasia..entah untuk siapa??? UNTUKMU ???
My profile

 
tag here please
Free shoutbox @ ShoutMix
 
 
Guys Next Door
 
Other Side of Me
 
 
Hobbies
 
Previous Post
 
Recent Comments
 
Archives
 
credits

BLOGGER


BlogFam Community

Lomba Blogfam HUT Kemerdekaan RI ke 62
Lomba Hut ke-3 Blogfam

Tour de Djokdja

Pesta Blogger 2007